
Kesendirian, suatu waktu di mana kita tak bisa menghindarinya. Banyak moment di mana kita harus tinggal seorang diri; saat di kamar mandi, saat di rumah tak ada orang kecuali kita, saat berada di sebuah ruangan warnet. Saat kesendirian itu muncul, saat di mana syaithan dengan gencarnya menggoda kita. Karena biasanya, kita akan jauh lebih semangat beribadah ketika ada orang di sekitar kita. Apalagi jika orang yang di dekat kita adalah orang yang shalih, yang senantiasa “menularkan” kebaikan pada diri kita. Ketika penghalang itu tak ada, setan pun dengan leluasa menerobos masuk dalam hati dan pikiran kita.
Karena iman yang lemah, kita pun kerap terjebak pada bujuk rayu syaithan. Kita menuruti apa mau syaithan. Tadinya kita rajin shalat, membaca Quran, tiba-tiba menjadi makhluk jalang yang bersuka cita pada kemaksiatan. “Ah… tidak ada yang melihat saya melakukannya,” bisiknya dalam hati.
Saat kesendirian itulah keimanan kita sedang diuji, apakah kita benar-benar mencintai Allah dengan setulus hati, apakah kita hanya takut kepadaNya ataukah ibadah yang kita lakukan selama ini hanya sandiwara dan ingin dipuji oleh orang yang sedang bersama kita?
Saat sendiri, berarti kita hanya berdua-duaan dengan Allah. Alangkah baiknya kita gunakan kesempatan itu untuk bermunajat dan mendekatkan diri kepada Allah. Ketika dalam keramaian kita berdzikir seratus kali. Maka saat sendirian, kita harus lebih dari itu. Uwais al-Qarny Ra. pernah berkata, “Aku tidak pernah melihat seseorang bisa mengenal Tuhannya, sementara dia lebih banyak bersama selainNya.”
Suatu ketika, di malam yang dingin dan sunyi, Imam Abu Hanifah bermunajat di sebuah masjid. Di sana beliau menghabiskan waktunya dengan shalat, dzikir, dan berdoa hingga shubuh. Tak disangka, ada orang yang melihat ibadahnya itu. Setelah mengetahui ada yang memperhatikannya, beliau lalu berkata kepada orang tersebut agar merahasiakan perihal apa yang dilihatnya.
Diriwayatkan bahwa Imam Malik tidak terlalu banyak melaksanakan puasa dan shalat sunnah. Akan tetapi, kesendiriannya dipenuh dengan hal-hal yang berguna dan bermakna.
Seorang ulama bernama Umar Tilmisani pernah menceritakan pengalamannya. Di suatu malam, Imam Hasan al-Banna -gurunya- memanggil namanya, “Ya Umar, apakah engkau sudah tidur?” Lantas Umar menjawab, “Belum ya Syaikh…” Kemudian Imam Hasan al-Banna kembali masuk ke kamarnya. Beberapa saat kemudian Imam Hasan al-Banna kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama. Tapi kali ini Umar sengaja tidak menjawabnya, karena pasti nanti akan bertanya lagi hal yang sama. Umar pura-pura tidur.
Setelah tidak ada jawaban dari Umar, Imam al-Banna masuk kembali ke kamarnya. Beberapa saat lamanya pertanyaan yang sama tidak segera muncul, Umar pun melihat apa yang dilakukan gurunya itu di dalam kamarnya. Demi melihatnya, Imam Hasan al-Banna sedang bermunajat dengan tangisan menyayat hati. Akhirnya tahulah Umar, jika gurunya itu menginginkan kesendirian dalam bermunajat kepadaNya, sehingga amalan hanya semata-mata karena Allah.
Sungguh asyik berdua-duaan bersama Allah, sehingga Allah akan menganugerahi cahaya pada wajah kita. Imam Hasan al-Bashri pernah ditanya, “Kenapa orang yang rajin shalat malam wajahnya tampak bercahaya?” Imam Hasan menjawab, “Karena dia berdua-duaan dengan Allah sehingga Allah menghadiahinya sebagian dari cahayaNya.”
Seorang yang taat di kala ramai maupun sepi akan mereguk manisnya iman. Dia akan mendapatkan peningkatan kualitas iman dalam dirinya. Sesungguhnya semua ibadah yang kita lakukan untuk diri kita sendiri, bukan untuk orang lain. Kita berlaku demikian laksana melemparkan kayu Hindi (bahan minyak wangi) ke tengah bara api, kemudian wanginya tercium oleh manusia, namun mereka tak tahu dari mana sumber wewangian itu.
Ada orang yang jika kita mendekatinya terasa damai. Ketika menatap wajahnya, semakin mendorong kita untuk banyak mengingat Allah. Semakin bergaul akrab dengannya, terasa kebaikan-kebaikannya. Cintanya kepada kita bukan kamuflase sesaat, tetapi merupakan cinta murni yang datang dariNya. Terasa di sekeliling kita “harum mewangi” ketika kita bersamanya.
Namun, ada orang yang jika kita semakin dekat dengannya, hati kita semakin hampa, keras membatu, dan kotor oleh maksiat. Mungkin pada mulanya, kita menganggapnya orang baik. Namun lama kelamaan ketahuan belangnya, hatinya lebih busuk dari bangkai dan lebih kejam dari binatang liar. Merekalah orang-orang yang hanya taat di kala ramai, namun berbuat maksiat di saat sendiri.
Barangsiapa yang kesendiriannya baik dan penuh makna, akan menyebarlah aroma keutamaannya dan hati pun akan senantiasa mencium wewangiannya. Jagalah perilaku Anda dalam kesendirian, karena hal itu sangat bermanfaat.
Jakarta 05.05.2011 pukul 03.45
Oleh: Siti Aisah (Profile)
Ungkapan Mutiara
Minggu, 22 Mei 2011
Kesendirian yang Bermakna
Kamis, 19 Mei 2011
Berhenti Sejenak dan Segera Bergerak Cepat

Dari Suhaib ra., bahwa Rasulullah Saw. bersabda, "Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin; yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya.
Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya" (HR. Muslim)
SABAR. . .
Entah dari mana asalnya, kata ini terkadang ampuh, membuat kita berhenti menangis saat cobaan menyapa hidup kita. “Bersabarlah”. Kadang malah membuat kita ingat sekaligus ingin beristighfar dan langsung mengambil wudhu, lalu Quran untuk melantunankan beberapa kalimatnya. “Bersabarlah”. Bagi yang non-Muslim biasanya juga langsung mengatakan “Puji Tuhan” dan mengambil kitab sucinya sambil mencari rentetan ayat yang berhubungan dengan penenangan diri dan berserah diri. “Bersabarlah”.
Karena saya seorang Muslim, maka saya menulisnya berdasarkan apa yang saya pahami dari keyakinan saya, namun ini bukan berarti mengesampingkan agama non-Muslim atau melarang yang berbeda keyakinan dilarang membacanya. So, tulisan ini untuk siapapun yang ingin memelihara sifat SABAR dalam konteks yang luas. ^_^
Sabar berasal dari bahasa Arab, yang kemudian seiring perkembangan budaya menjadi istilah dalam bahasa Indonesia. Asal katanya adalah "Shobaro" membentuk infinitif (masdar) menjadi "shabran". Jika didefinisikan secara bahasa, sabar berarti menahan dan mencegah. Agar semakin kuat maknanya. Mari kita mengintip firman Allah dalam Quran, “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaanNya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas." (QS. Al-Kahfi: 18 - 28).
Seberapa penting tho sabar itu?
Lha ini dia pertanyaan yang mungkin semua orang sepakat dengan saya. Bahwa sabar itu sangat amat penting sekali. Mau bukti? Banyak pemerkosaan yang terjadi di Negri ini. Andai saja para pelaku bersabar menahan syahwat mungkin saja tidak ada korban, malah sekarang lagi nge-trend banget tuh Bapak menjadikan anaknya sebagai objek pelampiasan syahwatnya. Mau bukti lagi? Andai saja para koruptor bersabar untuk menjadi jutawan, uang Negara tidak akan habis seperti sekarang. Andai saja kemarin, ketika kalah AFF para supoter sabar, pasti deh kita tidak akan menyalahkan si Firman Utina (soalnya lagi musim bola jd contohnya sedikit nyerempet hehehe…) dan parahnya andai para pembeli tiket final AFF sedikit bersabar pasti tidak ada deh yang sampai pingsan apalagi ada yang meninggal karena dehidrasi.
Tidak akan ada pencurian hingga akhirnya pelaku membunuh korban, jika sabar itu ada, karena sabar adalah ketenangan. Tidak akan membuat suami istri saling membenci dan melakukan perceraian, jika sabar itu ada, karena sabar adalah kedamaian. Tidak akan ada bentrok antara mahasiswa yang melakukan demonstrasi dengan polisi, jika sabar itu ada, karena sabar adalah pembelajaran. Tidak akan ada guru yang mengacuhkan muridnya karena kenakalannya, jika sabar itu ada, karena sabar sebuah didikan.
Bagaimana sabar itu bisa tumbuh?
Sabar bukan berarti berhenti dan diam ketika ada masalah yang menimpa hidup, dan bukan berarti putus asa dan pasrah tanpa melakukan suatu apapun. Berhenti sejenak dan segera bergerak cepat melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Sabar adalah menunda respon atas stimulus yang menyakitkan dirinya untuk beberapa saat sampai merasa tenang sehingga pikiran dapat berfungsi kembali dengan baik. Itu berarti secara tidak langsung sabar akan mengasah kecerdasan emosi, terutama dalam menghadapi situasi marah dan menyakitkan.
Pada dasarnya manusia diciptakan oleh Allah SWT. di muka bumi ini dituntut untuk selalu mendayung akan budinya agar tercipta ketentraman, kedamaian, kebahagiaan, dan kebaikan. Secara psikologis orang-orang yang demikianlah yang akan mengalami ketenangan dalam hidupnya walau kerap tekanan hidup menghampiri.
Manusia mempunya naluri yang mengajaknya untuk mencari, menentukan dan menemukan sesuatu yang baik dalam hidupnya. Naluri juga yang senantiasa mengajak manusia untuk membenahi diri ke arah yang lebih baik. Dalam setiap hari bahkan setiap detik kehidupannya, ia berusaha memperbaiki hal-hal yang dianggap kurang pas dan mencari alternatif lain yang lebih baik. Manusia dengan akal budinya kemudian menjadikan hidup sebagai sebuah proses pencarian yang tidak pernah kunjung usai serta mencari kepuasan dalam melakukan segala hal, namun terkadang kepuasan tersebut semakin tidak ia dapatkan.
Dalam sebagian besar perjalanannya hidup anak adam, agama banyak memberikan petunjuk. Namun dengan adanya keterbatasan kemampuan serta ideologi menyimpang, manusia kerap tidak mampu menggapai puncak keistimewaan tersebut. Dalam konteks ini, manusia juga lazim mengeluh dan bahkan kecewa akan kondisi psiko-Ilahiyah-nya, sehingga merasa terpanggil untuk melakukan perbaikan-perbaikan dalam hal keagamaannya.
Kesatuan antara keyakinan terhadap Allah SWT., serta taat terhadap apa yang sudah diajarkan Islam, sangat membantu kita untuk terus memelihara sikap sabar dalam setiap konadisi. Ketenangan jiwa yang dihasilkan dari kedekatan kita pada Yang Maha Kuasa memberikan energi positif dalam menjaga hati kita yang kerap berbalik setiap waktu. Menjadi manusia yang selalu berikhtiar, berdaya upaya dan berjuang agar menjadi orang yang beriman, dengan mendidik dirinya masing-masing, dan memperdalam keyakinan dan pengetahuannya tentang Tuhan dan agama adalah cara cepat untuk memperoleh energi sabar dalam setiap kondisi. Insya Allah.
Oleh: Luluk Evi Syukur (Profile)
Minggu, 08 Mei 2011
Cinta dalam Diam

Cintailah ia dalam diam, dari kejauhan, dengan kesederhanaan dan keikhlasan.
Ketika cinta kini hadir tidak untuk Yang Maha Mengetahui, saat secercah rasa tidak lagi tercipta
untuk Yang Maha Pencipta.
Izinkanlah hati bertanya untuk siapa ia muncul dengan tiba-tiba.
Mungkinkah dengan ridhaNya atau hanya mengundang murkaNya.
Jika benar cinta itu karena Allah, maka biarkanlah ia mengalir mengikuti aliran Allah. Karena
hakikatnya ia berhulu dari Allah, maka ia pun berhilir hanya kepada Allah.
“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz Dzariyat:49)
“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak
(berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan kurniaNya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur: 32)
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya
di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”(QS. Ar-Ruum: 21)
Tapi jika memang kelemahan masih nyata dipelupuk mata maka bersabarlah, berdoalah atau
berpuasalah.
"Wahai kaum pemuda, siapa saja di antara kamu yang sudah sanggup untuk menikah, maka
menikahlah, sesungguhnya menikah itu memelihara mata, dan memelihara kemaluan, maka bila di antara kamu belum sanggup untuk menikah, berpuasalah, karena sungguhnya puasa tersebut
sebagai penahannya” (Hadist)
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. AlIsraa’: 32)
Cukup cintai ia dalam diam, bukan karena membenci hadirnya, tapi menjaga kesucianny. Bukan karena menghindari dunia, tapi meraih surgaNya. Bukan karena lemah untuk menghadapinya, tapi menguatkan jiwa dari godaan syaitan yang begitu halus dan menyelusup.
Cukup cintai ia dari kejauhan, karena hadirmu tiada kan mampu menjauhkannya dari cobaan, karena hadirmu hanya akan menggoyahkan iman dan ketenangan, karena hadirmu mungkin saja akan membawa kenelangsaan hati-hati yang terjaga.
Cukup cintai ia dengan kesederhanaan, memupuknya hanya akan menambah penderitaan menumbuhkan harapan hanya akan mengundang kekecewaan mengharapkan balasan
hanya akan membumbui kebahagiaan para syaitan.
Maka cintailah ia dengan keikhlasan, karena tentu kisah Fatimah dan Ali bin Abi Thalib diingini oleh hati, tapi sanggupkah jika semua berakhir seperti sejarah cinta Salman Al-Farisi?
“ …boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui,
sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. AlBaqarah:216)
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh)
itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)” (QS.An-Nuur: 26)
Cukup cintai ia dalam diam dari kejauhan dengan kesederhanaan dan keikhlasan.
Karena tiada yang tahu rencana Tuhan, mungkin saja rasa ini ujian yang akan melapuk atau membeku dengan perlahan, karena hati ini begitu mudah untuk dibolak-balikan.
Serahkankan rasa yang tiada sanggup dijadikan halal itu pada Yang Memberi dan Memilikinya biarkan ia yang mengatur semuanya hingga keindahan itu datang pada waktunya.
“Barangsiapa menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga.” (Umar bin Khattab ra.)
Oleh: Siti Aisah (Profile)
Minggu, 24 April 2011
Berdialog dengan Hati

Wahai hati, di dalammu ada sebuah asa yang begitu indah dirasa. Ia adalah pemompa semangatku, ia adalah karib dari pikiran serta perasaanku, ia adalah amanah dariNya. Sudah sejak lama ia temani diri, berusaha tuk selalu tuntun agar jalanku lurus menujuNya, ah, terimakasih kawan, terimakasih Cinta. ^_^
Lebih dari sekedar kata, gerak-geriknya terlihat dari sisiku yang paling luar. Maka siapa saja yang mengerti tentang aktifitas hati, aku benar-benar tak akan bisa berbohong.
Wahai hati, andainya kau bisa berbicara, maka siapakah yang kan mengerti tentang bahasamu? Maka siapakah yang memahami kehendakmu? Maka siapakah yang tahu tentangmu wahai hati?
Kau ini letaknya tersembunyi, tapi gerakannya terlihat dari luar. Benar-benar tak bisa dibohongi orang yang sudah melatih diri mengenal dan menjagamu. Orang itu, yang selalu menata hati, sebab di situlah godaan terbesar bagi manusia. Manusia ini, tak akan mau terkalahkan oleh godaan duniawi, sebab ia tahu Dia lebih dari segala-galanya, dan pemberian dariNya tak mungkin bisa tergantikan dengan materi duniawi.
Duhai hati, kadang kubertanya, siapa sebenarnya yang mengendalikanmu? Siapa yang membuat aku bisa rasakan beragam emosi campur aduk itu? Mengapa orang sering katakan bahwa jika bukan raga yang sakit, padahal merasa ada yang tidak enak, maka itu hati yang sakit. Lantas, seperti apakah rupanya hati yang sakit?
Wahai hati yang merupakan pemberian dariNya, maukah kau tunjukkan padaku jalan lurus menuju pemilikmu? Aku tahu hati, padahal aku sendiri yang menjauhkan diri dariNya, aku sendiri yang membuat hijab-hijab itu. Padahal kau tahu juga, Dia tak pernah jauh dariku, bahkan Dia lebih dekat daripada urat nadi kehidupanku. Lantas, dimanakah Dia? Mari, tuntun aku wahai hati, meski saat ini tanganku lemah untuk sekedar menyambutmu dengan suka cita, tolong aku wahai hati. Tapi meski begitu, siapapun orangnya yang kutemui, dan apapun perlakuan atau perkataan orang itu padaku, aku yakin di dalam hatinya ada nurani kebaikan yang suatu saat nanti akan memancar bila telah sampai pada waktunya.
Hati-hati dengan hati yang bila tidak hati-hati akan menyakiti hati yang tidak hati-hati, ^_^
Oleh: Rosa Rahmania (Profile)
Senin, 18 April 2011
Cintailah Cinta Sesuai dengan Titelnya

Cinta, satu kata apa maknanya? Dari mulai umat terdahulu sampai sekarang pengertian cinta tak habis-habisnya untuk dibahas. Cinta dari seorang yang baru merasakannya sampai kepada masa yang lebih tua sekalipun. Setiap masa dalam kisah cinta pasti mempunyai arti yang berbeda-beda. Cara menyalurkan cintanya pun beragam, dari masa remaja yang baru mengenal cinta dengan sikap pemalu sampai kepada taraf melamar. Sebenarnya cinta yang mana yang mereka akan hendaknya memaknai?
Di dalam sebuah buku yang berjudul ”Hari Merah Jambu” karya Irawati. Beliau seorang anggota FLP (Forum Lingkar Pena). Tertulis dalam bukunya bahwa cinta adalah fitrah manusia, namun cinta sejati seharusnya menuntun manusia untuk lebih dekat kepada Allah SWT.
Cinta yang sudah menjadi fitrah manusia sudah menjadi kehendak Allah SWT.. Allah memberikan cinta kepada hambaNya supaya dapat menjalin ukhuwah islamiyah. Saling mengasihi, menolong dan menasehati dalam hal yang baik adalah wujud rasa cinta terhadap sesama makhluk. Semoga hal yang kita lakukan dengan menggunakan syari’at yang semestinya. Sehingga dengan itu kita dapat lebih mendekatkan diri dengan Allah SWT..
Cinta adalah kondisi yang terjadi di luar kehendak kita. Ia bisa terjadi pada seseorang melalui pendengaran, penglihatan dan lain sebagainya. Menurut DR. Ramdhan Al-Bhuti, perasaan cinta tidak masuk dalam ruang lingkup hukum atau larangan agama yang berkaitan dengan perbuatan mukallaf.
Cinta melalui pendengaran bisa saja terjadi pada seseorang dengan cara perkenalan melalui telepon. Akibat gaya bahasanya yang menarik bisa saja seseorang menjadi penasaran untuk ingin bertatap muka langsung hingga pada akhirnya mereka janjian untuk bertemu. Dan disitulah terjadi transaksi langsung yang mereka menjadi berhubungan dalam ikatan cinta.
Cinta melalui penglihatan sudah tidak asing lagi, hampir setiap orang memahaminya. Seorang yang mencintai, lebih cenderung kepada penampilan yang dicintainya. Kalau orang biasa mengatakan ; ”Dari mata turun ke hati”. Perkataan yang sering dikatakan oleh remaja sekarang. Dilihatnya seorang wanita cantik, langsung hati merasa tertarik. Kondisi ini mungkin pernah di alami oleh semua para remaja karena ini merupakan hal yang wajar.
Perlu dikoreksi semua kebiasaan dan kewajaran yang selama ini kita alami, tak selamanya semua itu sesuai dengan syari’at. Bisa saja itu semua malah membuat kita menjadi semakin terbuai dalam rayuan iblis yang menyesatkan. Tapi semua itu kita rasakan tanpa beban dan terasa nikmat. ”Jangan membenarkan kebiasaan, tapi biasakanlah kebenaran”. Iblis membujuk rayu manusia kedalam nikmat yang sesaat. Hanya iming-iming kenikmatan semata, yang sebenarnya dapat menjauhkan kita dari Allah SWT. dengan meninggalkan sebagian syari’atnya.
Bagi seorang muslim yang sejati, ungkapan; ”Dari mata turun ke hati. Merupakan perkataan yang keliru”. Memang itu merupakan fitrah, tapi kita jangan sepintas untuk memaknainya. Seharusnya ; ”Dari mata naik ke otak dan ditetapkan oleh hati”. Pasalnya pandangan yang kita lakukan harus kita bandingkan terlebih dahulu dengan ketentuan syari’at. Sebaiknya kita berfikir terlebih dahulu, apakah ini di perbolehkan atau tidak? Dengan ini insyaAllah kita tidak akan terbuai dalam rayuan iblis. Sebagai batasannya kita jadikan Al-Quran sebagi barometer.
Imam Ibnu Hazm dalam bukunya ; ”Thauq Al-Hamamah, cinta adalah kecenderungan hati seseorang terhadap wanita (lawan jenis)." Dimasa pubertas kejadian ini bisa terjadi dengan sendirinya. Berkaitan dengan ungkapan DR Ramdhan Al-Buthi, cinta yang terjadi di luar kehendak kita. Meskipun perasaan kecenderungan terhadap wanita terus manghampiri kita, tetapi jangan dijadikan alasan untuk kita menyalurkan hubungan yang tergesa-gesa sambil memberi janji serta mempertahankan mimpi dan khayal.
Ada cerita dari seorang mahasiswi yang telah mengalami kegagalan cinta pertamanya. Dimulai mengalami gejolak cintanya pada waktu pertama kali kuliah. Ketertarikannya dia kepada seorang laki-laki membuat hati jadi tidak tenang. Di waktu melamun dia selalu memikirkan orang yang di cintainya. Jikalau bertemu selalu memandangnya dengan penuh harapan. Padahal laki-laki yang dicintainya tidak tahu bahwa perempuan itu mencintainya.
Berbulan bulan telah berlalu, perasaan wanita itu tak ubahnya begitu. Terlalu sering bertemu, kemudian bercakap-cakap, hingga pada akhirnya mereka mempunyai ikatan cinta. Pada waktu rasa cintanya yang sudah lama terpendam dan kini dapat terungkap pada sasaran yang tepat, hatinya begitu bahagia sampai mengeluarkan air mata. Hubungan mereka dijalaninya dengan keadaan hati yang begitu berbunga-bunga. Sekian lama kisah mereka jalani, kemudian wanita itu memperkenalkannya kepada kedua orang tuanya. Sayang, orang tuanya tidak menyetujuai hubungan mereka. Hatinya menjadi merasa tertekan, jiwa yang tenang menjadi tergoncang.
Masyarakat yang ada pada lingkungannya pun tidak mendukung. Kisah asmara gadis berjilbab yang mempunyai wajah manis ini mulai bebalik arah. Semua angan-angan dan harapan tidak sesuai lagi dengan yang diinginkan. Semua kejadian pahit yang ada di lingkungannya diceritakan kepada sang pujaan hatinya. Dia seorang pria yang arif memahami keadaan kekasihnya.
Dengan nada merayu pria itu berkata: ”Jangan bersedih kekasihku aku akan selalu ada di sampingmu”. Dengan begitu dia akan selalu setia padanya bahkan akan melamarnya. Hati gadis yang malang kini mulai terhibur kembali dengan cara sembunyi-sembunyi, mereka mempertahankan hubungannya. Sampai tiba waktunya mereka lulus dan menjadi sarjana.
Pria yang dicintainya ternyata pergi keluar negeri untuk melanjutkan belajarnya tanpa sepengetahuan sang kekasih. Jelas hati gadis itu terasa sangat terpukul. Air matanya berlinang membahasi pipi. Hampir setiap hari dia mengurung diri di kamar sambil menangis. Sepintas kejadiannya masa lalu ada dalam pikirannya. Tapi sekarang hanya tinggal kenangan semata.
Sungguh diluar dugaan, kejadian yang menimpa dia sulit diterima sebagai kehendak Allah SWT.. Gadis itu menjadi stres dan frustasi. Hati yang amat terpukul merasa tidak rela dengan kejadian yang menimpanya. Pikiran yang aneh-eneh mulai hinggap di otaknya. Untung dia tersentuh oleh cahaya agama. Dengan keimanannya dia bentengi pikiran-pikiran yang menyesatkan. Apakah ini cinta ?
Hubungan yang dulu dijalin dengan penuh rasa cinta kini hanya tinggal kenangan semata. Dengan hubungan yang tergesa-gesa sambil memberi janji serta mempertahankan mimpi dan khayal. Seorang pria yang dulu telah berjanji dengan penuh kepastian kini meninggalkannya. Perasaan ini membuat gadis malang itu seakan-akan tidak mempercayai seorang lelaki lagi. Yang ada dalam pikirannya hanyalah ; ”Menganggap bahwa semua lelaki semua sama”. Sikap yang belum bisa menerima kenyataan adalah wajar, karna masih diliputi rasa was-was dan ketakutan. Pikiran-pikiran negatif yang singgah diotaknya akan selalu ada selama masih diliputi rasa was-was dan ketakutan. Bersyukur, ternyata Allah masih memberi jalan bagi gadis itu. Ia tidak terjerumus berlarut-larut dalam kesedihan.
Kenangan pahit yang menimpanya mulai dilupakan dengan mengisi waktu luangnya untuk kegiatan yang berguna. Di mulai dari senam kesegaran jasmani, membaca buku dan lain sebagainya. Setiap seusai shalat wajib dia tak pernah telat untuk membaca Al-Qur’an.
Pikiran romantis yang menganggap dia adalah segalanya merupakan pemikiran yang berlebihan dan mungkin akan juga berbahaya. Begitu juga yang terjadi pada seorang gadis yang sudah tersentuh virus cinta semua janji serta mempertahankan mimpi dan khayal menjadi kebiasaan seseorang yang mulai jatuh cinta. Padahal semua itu hanyalah pikiran yang berlebih-lebihan yang akan menjerumuskan kedalam tipu daya syetan.
Seorang muslim yang benar-benar berpegang teguh kepada akidah Islam dengan sungguh-sengguh serta di barengi hati yang ikhlas, tidak akan mudah tertipu dengan bujukan hawa nafsu. Walaupun nafsu ini berkata; "Pandanglah” tapi akidah berkata lain; maka seorang yang mempunyai akidah , kita harus mengikuti akidah yang kita miliki ; ”Tundukkanlah”,…. dan kemudian kita menunduk.
Oleh karena itu, jadikanlah cinta sebagai sarana cinta kepada Tuhan. Jika cinta itu tidak menjadi sarana kita semakin cinta kepada Tuhan, maka perlu dipertanyakan. Sehingga jika cinta sebagai sarana untuk mencintai Tuhan maka cinta sudah menjadi titel yang sesungguhnya yakni cinta sebagai fitrah manusia.
Oleh: Mamat Munandar (Profile)
Kamis, 14 April 2011
Wanita Tangguh Apa Harus Tomboy?

“Ajari aku tuk jadi wanita tangguh
Mungkin terlalu lama aku telah bersembunyi
Menatap matahari pun aku tak mampu
Udara malam pun terlalu menusuk langkahku
Di persembunyian aku bernyanyi
Di persembunyian aku menari
Wanita tangguh…“
Masih ingat bukan dengan lagu tersebut? Ya meskipun saya edit sedikit liriknya :D Sebenarnya apa sih arti tangguh itu? Kita sering sekali mendengar kata tangguh dipakai orang untuk menyebut seorang pria yang bertubuh kekar seperti Ade Ray yang pandai menumbangkan lawan-lawannya dengan sekali pukulan. Desigggg….. Wiiih tangguh banget tuh cowo, Sambil mata melotot dan mulut menganga.
Ah tidak juga, tak selamanya tangguh berkaitan erat dengan otot tapi otak juga. Bukankah setiap permasalahan tak akan selesai hanya karena otot saja? Tapi perlu kematangan otak juga dalam mengatur strategi mencari jalan keluar secara bijak. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tangguh dapat diartikan sebagai sukar dikalahkan (kuat), tidak lemah (pendirian), tabah dan tahan (menderita), serta kukuh.
Wanita tercipta sebagai makhluk yang sangat halus dan lembut perasaannya. Maka tak heran bila banyak anggapan bahwa wanita adalah makhluk yang lemah dibandingkan lelaki karena wanita lebih mengutamakan perasaannya daripada logikanya. Satu-satunya senjata wanita yang paling ampuh adalah menangis. Entah berapa ribu tetes air mata yang sering diteteskan sehari oleh wanita kala hatinya gundah dan lara. Benar ga ya? :D
Wanita identik dengan menangis dan mengeluh, tak jarang kita jumpai di status-status para wanita symbol seperti ;( -_- “_” dan symbol lainnya yang mengungkapkan bahwa dirinya sedang dirundung nestapa, tak terkecuali saya, hehehe.
Sedih itu ada sebagai pelengkap bahagia. Tak ada kesedihan bila tak ada bahagia. Bukankah Allah ciptakan alam semesta lengkap dengan isinya yang berpasang-pasangan?
Lantas apa hubungannya dengan ketomboyan ya? Hmm... Tomboy merupakan suatu sikap seorang wanita yang menyerupai lelaki, baik dari segi penampilan maupun perangainya. Terkadang tomboy banyak dipilih oleh sebagian wanita untuk menunjukkan bahwa dirinya bukanlah makhluk lemah. Tak ada istilah menangis dalam kamusnya, tak ada istilah mengeluh, atau aktivitas sebagainya yang dilakukan wanita pada umumnya. Ah sungguh meruginya dirimu andai memilih menjadi wanita tomboy. Padahal Islam sangat memuliakan wanita dan pundi-pundi pahala mudah sekali wanita raih meskipun dalam pandangan manusia apa yang dilakukan hanya amalan kecil. Dan alangkah meruginya dirimu andai terlalu memaksakan untuk membekukan air matamu seumur hidupmu. Air mata adalah nikmat tak ternilai dari-Nya yang juga harus dimanfaatkan.
Tangguh tak mesti mengubah jati dirimu menjadi seperti lelaki. Dan untuk bersikap lemah lembut, lelakipun tak perlu menjadi seperti wanita. Yang dilihat bukan wujudnya kan ya tapi amalannya. Jika dirimu ingin menjadi wanita tangguh, bercerminlah pada Ibumu. Dialah wanita tertangguh di dunia. Dan lihatlah apakah ia mengubah keanggunannya menjadi sebuah ketomboyan? Ga kan? Dia tetap menjadi wanita yang tangguh saat sembilan bulan harus membawa kita kemana-mana dan saat harus merawat kita saat lahir hingga sebesar ini. Belum lagi mengurus urusan yang lainnya. Atau membantu keuangan keluarga dengan bekerja sampingan. Ah sungguh ketangguhan itu tak selalu identik dengn kekuatan fisik semata, tapi kekuatan mental dan hati kita dalam menghadapi kehidupan ini. Mulailah bijak dalam meneteskan air mata, jangan keseringan dan jangan pula terlalu pelit. Menangislah jika dirimu tidak bisa menangis. Berarti ga normal tuh hehehe.
Yuk jadi wanita yang tangguh, yang tak mudah putus asa, dan tak gampang menangis hanya karena masalah yang masih bisa diselesaikan tanpa harus menitikkan air mata tanpa mengubah identitas kita sebagai makhluk Allah yang bernama wanita.
“Sesungguhnya kekuatan itu ada pada diri kita sendiri, namun terkadang kita yang tak mau menggalai potensi kekuatan itu hingga ia lama membeku dan hanya bisa bersemedi dalam tubuh kita”
Note: Teruntuk rekan-rekan semua yang sedang belajar menjadi wanita tangguh, terutama sebagai motivasi untuk diriku sendiri yang tengah proses menuju ketangguhan yang sesungguhnya ^_^
Semoga bermanfaat…
Oleh: Yopi Megasari (Profile)
Jumat, 04 Maret 2011
Cinta Lagi

Cinta, sebuah kata istimewa yang selalu nampak indah dalam lubuk hati setiap manusia. Setujukah kau dengan pernyataanku ini? Kalau kau tak setuju, coba raba hatimu, lihat dan rasakan apa yang ada di sana. Tak sadarkah kau, bahwa setiap senyum atau sapaanmu terhadap temanmu, itu adalah salah satu bentuk ungkapan cinta, bukankah itu sering kita lakukan?.
Ya, kalau sekarang kau sudah setuju, maka sudikah engkau jika cinta tak membuatmu merasakan indahnya dunia? Memang, mungkin ada pengorbanan di dalam pembuktian cinta, tapi pun, jika itu dilakukan semata-mata hanya untuk yang dicinta, semua tak kan jadi penderitaan untuk kita. Malah, kita justru akan semakin merasakan indahnya cinta itu. That’s right?.
“Berikan cintamu niscaya kamu akan dicintai. Berusahalah untuk memahami niscaya kamu akan dipahami. Dengarkanlah niscaya suaramu akan didengar. Ajarkan niscaya kamu akan mendapat pengetahuan” (Ini mengutip kata-kata temanku). Karena sesungguhnya, setiap cinta yang kita beri, maka dengan sendirinya kita telah memberikan cinta pada diri kita sendiri.
Berbentuk apakah cinta yang seperti itu? Aku telah sering merasakannya, yaitu cinta yang berupa ketenangan diri, dan kebahagiaan yang merasuk di kalbu terdalam. Sungguh indah rasa itu, pernahkah kau mencobanya? Cobalah selagi kau bisa. Dan meski, kita pun kadang khilaf terlambat untuk mencoba ketika ladang cinta itu ada di depan mata.
Kuberitahu engkau, kekhilafan itu, bisa seperti keegoisan diri dan ingin selalu merasa diperhatikan. Maka (ini mengutip kata-kata temanku), jadilah cahaya dalam kegelapan, alias “Light in the Dark”. Janganlah selalu ingin diperhatikan atau ingin dipenuhi keinginan-keinginan kita. Tapi fokuslah, pada apa yang bisa kita lakukan untuk orang-orang di sekitar kita, supaya kita menjadi “sebaik-baik manusia”, yaitu yang paling bermanfaat untuk menusia lainnya.
Oleh: Rosa Rahmania (Profile)
Senin, 21 Februari 2011
Dia dan HambaNya

Semua adalah sunnah kehidupan. Seperti misal, yang hidup akan mati, yang muda akan tua, juga, yang menanam akan memetik hasilnya, Seperti selalu bergantinya kebahagiaan dan kesedihan mengisi rongga dada manusia. Memang hati manusia mudah terbolak-balik, karena ia berada di antara dua jari Allah. Semua adalah sunah kehidupan.
Tak akan ada keabadian, seperti misalnya, dalam sehari kita jarang merasakan senang yang terus menerus dari pagi hingga malam menjelang. Contohnya saja hari ini, hari Senin. hari yang biasanya dianggap sebagai satu hari yang paling membosankan karena kita dituntut bekerja kembali setelah hari kemarin kita bersantai. Jadilah pagi tadi mungkin kita berangkat beraktifitas dengan sedikit malas. Tapi ketika telah berada di tempat kerja, ada suasana baru, ada kesegaran wajah yang baru, ada pula keceriaan yang baru dari teman-teman kita yang punya cerita baru sementara mereka mnjalani libur pada hari sebelumnya. Tentunya hal yang seperti itu akan membuat kita bersemangat kembali memulai rutinitas kita. right? ^_^
Jadi, sekali waktu kamu merasa sedih, janganlah terlalu larut karena pasti nanti akan ada yang lebih membahagiakanmu daripada saat ini, dan jika sekali waktu kamu merasa bahagia, janganlah terlalu senang, sebab kamu tidak akan pernah tau takdir apa yang akan terjadi padamu satu menit setelah ini. :)
Kawan, selalu seperti ini ketika ujian datang. Hati deg-degan, pikiran macam-macam, apalagi yang paling fatal wajah mnjadi tak karuan. hehe...
Tapi semua itu wajar, dan ketika kau mencoba istiqamah dengan kebaikan-kebaiakan yang telah coba kalian lakukan, maka kebahagiaan dan kesedihan seolah hanya akan mampir saja dalam benak kita. Tak akan kita taruh di hati terdalam, karena kita yakin bahwa semua yang terjadi, apapun itu, seruwet apapun itu (hehe...), semua sudah yang terbaik buat kita. Semua akan jadi pelajaran berharga demi semakin dewasa dan bijaknya kita dalam menghadapi kehidupan. ^_^
Allah itu dekat, selama kamu tidak mencoba lari dariNya, Allah itu pengasih dan penyayang, selama kamu tidak mencoba menyakiti makhluk ciptaanNya, dan Allah itu Maha Segalanya, Dialah Sang Maha Pasti, semua usaha kita akan Dia nilai dan Dia juga yang memberi keputusan akhirnya, :) maka, yuk jadi manusia yang mengerti tentangNya, bahwa tidak selalu yang kita inginkan akan Dia penuhi, sebab Dia sayang kita, jadi memberi kita yang terbaik saja.
Harapan manusia hanya menjadi jalan, bahwa Allah akan memberi yang terbaik dari apa yang sebenarnya kita inginkan. Keep Allah in our heart, He always beside us, together with Rasulullah SAW, :) hanya Dia yang telah persatukan ikatan seliaturahim kita semua sampai saat ini dan seperti ini, :) berseyukurlah, karena dari semua ini kita telah belajar tentang sedikit ilmu dariNya utk kebaikan kehidupan kita. ^_^
* This note special for:
1. Yopi Megasari ^_^
2. Kru website Nathiq yang lain, "Mbak Ana, Ka Adi, Mbak Evi, Ka Moes" ^_^
3. All my lovely people, :) dan
4. Untuk yang sedang berusaha meningkatkan kualitas diri di hadapanNya, moga kita semua jadi hamba-hambaNya yang beriman, bertakwa, serta pandai bersabar dan bersyukur, ^_^ amin...
LUV U ALL, ^_^ SEMANGATAAAAAAAAATTTTTTTTTTTT..............! :)
Note ini lebih spesial lagi buat saya sendiri, hehe...
Oleh: Rosa Rahmania (Profile)
Minggu, 13 Februari 2011
Cinta yang Buta vs Cinta yang Melihat

Rasa cinta di dalam hati kadang kala membuat kita lupa akan segala hal yang ada dikenyataan kita, kadang pula kita memaknai cinta sebagai hal yang lumrah dan wajar bagi kita. Tetapi pada hakikatnya cinta adalah rahmat dari Allah SWT. dan merupakan salah satu nikmat-Nya yang paling besar bagi diri kita sebagai seorang hamba Allah SWT. oleh karena itu jagalah cinta, jangan sekali-kali engkau nodai cinta yang suci ini wahai Bani Adam. Dan jagalah ia jangan sampai hilang di telan oleh lumpur hidup yang siap menelan kapan saja
Rasa cinta ada pada hati setiap manusia, hewan, bahkan tumbuhan sekali pun. Seandainya makhluk Allah SWT. selain Bani Adam bisa berbicara mungkin ia akan berkata “Aku mencintaimu”, kata cinta ini sungguh sangat fenomenal dan luar biasa efeknya. Dengan kata cinta orang bisa menangis, dengan kata cinta orang bisa bahagia, bahkan karena cinta nyawa pun hilang.
Ketika rasa cinta meresap ke dalam hati yang masuk melalui pori-pori tubuh sehingga buluk kuduk pun berdiri tegak, dikarenakan hebatnya perkataan cinta maka kita pun akan terperana dengan kehebatan kata cinta itu. Itulah fenomena yang terjadi ketike seoarang jatuh cinta.
Orang yang sedang bercinta akan merasakan indahnya dunia ini, sehingga ada jargon “dunia hanya milik berdua”, kata-kata ini mungkin bisa dikatakan lucu bagi sebagian orang, karena kata ini mustahil terjadi, tetapi bagi orang yang sedang jatuh cinta maka semuanya bisa terjadi walaupun pada hakikatnya tidak akan terjadi. Hal ini berkaitan langsung dengan jargon “cinta itu buta” kata ini di satu sisi mendukung adanya kata “dunia hanya milik berdua” tapi di sisi yang lain perkataan “cinta itu buta” sebuah ungkapan yang mengarah negatif, artinya kenapa dia mengatakan dunia milik kita berdua? karena dia buta, tetapi buta di sini dalam tanda kutip yaitu buta karena cinta yang semu.
Lalu cinta apakah yang dapat melihat tetapi dunia milik kita bersama? Jawabannya mahabbah fillah (cinta karena Allah).
Inilah konsep cinta yang sesungguhnya, inilah konsep cinta yang kekal, inilah konsep cinta yang abadi, dan inilah konsep yang akan menolong kita dari kengerian hari kiamat. Karena mahabbah fillah adalah salah satu tanda orang yang mendapatkan naungan pada hari kiamat ketika tidak ada naungan kecuali naungan Allah.
Oleh karena itu, kita mencintai sesuatu apapun baik kekasih, guru, sahabat, teman, orang tua, hewan peliharaan dan lain sebagainya hendaknya dikarenakan Allah SWT, agar cinta kita itu di nilai ibadah. Bukan kah niat itu sangat berpengaruh dalam perbuatan kita apalagi kita sebagai manusia yang di ciptakan oleh Allah SWT. untuk beribadah oleh karena itu agar semuanya ibadah diniatkan kerena Allah SWT. inilah yang di sebut dengan mahabbah fillah (cinta karena Allah)
Jikalau cinta sudah di rasuki oleh kata “karena Allah” maka sungguh nikmat dan begitu syahdunya. Apalagi cinta ini dimaksudkan mencintai makhluk Allah SWT. yang sudah barang tentu fana yang tidak kekal, maka kita pun akan berpisah dengan sesuatu yang kita cintai itu karena ada sebuah perkataan “ada pertemuan dan pasti ada perpisahan”, tetapi bagi orang yang sudah di rasuki oleh kata “karena Allah” maka ia tidak akan kecewa dan tidak akan menyesal yang berlarut. Cinta yang dikarenakan Allah SWT. akan memegang prinsip “cintailah kekasihmu jangan berlebihan” karena cinta yang hakiki dan yang sebenarnya adalah cinta kepada penciptanya.
Apalagi di tambah dengan kata-kata “dunia milik bersama” , sungguh indahnya muslim, kita di perintahkan untuk saling menasihati dan saling mengingatkan, karena dunia ini milik kita bersama yang menjadi sarana mengumpulkan bekal yang banyak untuk perjalanan yang jauh, lebih jauh lagi dari pada perjalanan dari bumi ke planet pluto. Bersyukurlah wahai Muslim dan Muslimah.
Marilah untuk merubah konsepsi kita dari cinta buta yang milik berdua kepada cinta yang melihat yang milik bersama, karena alangkah indahnya saat hati ini melihat dan mengajak bersama-sama untuk menuju surga-Nya Allah SWT. yang kekal dan Abadi.



